Tempat Berfoya-foya Para FlashFiction Lovers

Friday, 5 July 2013

Gaya Bahasa dalam Fiksi

08:40 Posted by sulung lahitani mardinata , 1 comment
Hai, haloo. Masih semangat buat belajar, kan? Pastinya dong, baru di awal bulan gini. Nah, kemarin-kemarin saya sempat baca kalau tulisan-tulisan Suhunya MFF, alias Mbak Carolina, dibilang penuh Eufimisme. Apaan tuh? Psst, Eufimisme itu salah satu gaya bahasa dalam fiksi. Langsung aja yuk dibahas

Gaya bahasa merupakan salah satu dari sekian banyak unsur intrinsik yang membentuk sebuah karya sastra. Menurut Wikipedia versi Indonesia, gaya bahasa merupakan pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam.

A.      GAYA BAHASA SINDIRAN
1.       Ironi (sindiran halus) : sindiran yang dikatakan, kebalikan dari apa yang sebenarnya
Contoh: Lekas betul abang pulang,  hari baru pukul satu malam (lekas betul=terlambat sekali)

2.       Sinisme : sindiran lebih kasar dari ironi yang bermaksud mencemoohkan
Contoh: “Bersih benar badanmu, ya?” Kata ibu kepada anaknya yang belum mandi

3.       Sarkasme : sindiran yang sangat tajam dan kasar, hingga kadang-kadang menyakitkan hati.
Contoh: Hai, binatang pergi engkau dari sini!

B.      GAYA BAHASA PERTENTANGAN
1.       Paradoks : gaya bahasa yang mengemukakan dua pengertian yang bertentangan sehingga sepintas lalu tidak masuk akal
Contoh: Dia sering kesepian di kota besar yang ramai itu

2.       Antitesis : pengungkapan mengenai situasi, benda atau sifat yang keadaannya saling bertentangan, dan menggunakan kata-kata berlawanan arti
Contoh: Besar kecil, tua muda, pria wanita ikut menyaksikan perlombaan itu

3.       Anakhronisme : gaya bahasa yang melukiskan suatu keadaan tidak sesuai dengan peristiwa sejarah
Contoh: Candi Borobudur dibuat oleh nenek moyang dengan menggunakan komputer

4.       Kontrakdiksio interminis : Gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan penjelasan semula
Contoh: Semua telah beres, kecuali surat jalan

C.      GAYA BAHASA PENEGASAN
1.       Inversi : kalimat yang predikatnya terletak di depan subjek.
Contoh: Besar sekali rumahnya.

2.       Retoris : kalimat tanya tak bertanya, yang menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek
Contoh: Itukah bukti janji yang engkau ucapkan?

3.       Koreksio : membetulkan kembali ucapan yang salah, baik dengan sengaja atau tidak
Contoh: Dia baru saja makan, oh bukan, dia tidur

4.       Repetisi : pengulangan kata-kata dalam bahasa prosa
Contoh: Kita telah merdeka, kita telah membangun, kita telah bahagia

5.       Paralelisme : pengulangan kata-kata untuk penegasan dalam bahasa puisi

6.       Enumerasio : melukiskan suatu peristiwa atau keadaan dengan cara menguraikan satu demi satu situasi/keadaan sehingga merupakan suatu keseluruhan
Contoh: Apa yang engkau harapkan, saya orang miskin, yang tidak disenangi orang kampung, yang tidak punya rumah tempat tinggal

7.       Klimaks : gaya bahasa yang menguraikan suatu keadaan secara berturut-turut makin lama makin memuncak.
Contoh: Sejak dari kecil sampai dewasa, malah sampai setua ini perangainya tidak pernah berubah

8.       Anti klimaks : gaya bahasa yang menguraikan suatu keadaan secara berturut-turut makin lama makin menurun.
Contoh: Jangankan sejuta, seribu, seratus pun tak mau aku memberikan uang itu kepadamu

9.       Pleonasme : menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi sebab arti kata tersebut telah terkandung dalam kata yang diterangkannya
Contoh: Ia tidak ingin naik ke atas

10.   Tautologi : mengulang beberapa kali  sepatah kata dalam sebuah kalimat
Contoh: Tidak, tidak mungkin dia yang mencuri uang itu

11.   Ekslamasio : gaya bahasa yang didalamnya memakai kata seru
Contoh: Wah, cantik benar gadis itu!

D.      GAYA BAHASA PERBANDINGAN
1.       Asosiasi : melukiskan suatu keadaan dengan membandingkan terhadap keadaan lain  yang menimbulkan suatu asosiasi yang sama dengan benda tersebut sehingga lebih jelas
Contoh: Wajahnya cantik bagaikan bulan purnama

2.       Alusio : gaya bahasa perbandingan dengan mempergunakan ungkapan-ungkapan, peribahasa, atau sampiran pantun yang sudah lazim dipergunakan orang
Contoh:  Makan hati saya melihat tingkahmu

3.       Litotes : gaya bahasa yang melukiskan keadaan sesuatu dengan menyatakan keadaan yang sebaliknya, guna merendahkan diri
Contoh: Terimalah baju jelek ini sebagai kenang-kenangan

4.       Hiperbola : gaya bahasa yang menggunakan kata-kata untuk melukiskan peristiwa atau keadaan dengan cara berlebihan daripada sesungguhnya.
Contoh: Hatiku rasa terbakar mendengar caci makinya

5.       Personifikasi : gaya bahasa perbandingan yang membandingkan benda mati seolah-olah bernyawa sehingga bertindak, berlaku, berpikir, merasa seperti manusia
Contoh: Hatiku berkata, saya harus sukses

6.       Sinekdokhe : gaya bahasa yang mengungkapka sebagian masalah padahal yang dimaksud semuanya, juga menyatakan seluruh masalah sedangkan yang dimaksud hanya sebagian.
Gaya bahasa ini dibagi 2 yaitu:
         Pars pro toto (sebagian untuk seluruh)
Contoh: Saya membeli tiga ekor kambing
         Totem pro parte  (seluruh untuk sebagian)
Contoh: Desa kami memenangkan lomba gerak jalan

7.       Metonemia : gaya bahasa yang menggunakan sepatah kata atau sebuah nama yang dapat berasosiasi dengan nama benda, binatang, tempat,untuk menggantikan benda yang dimaksud tadi.
Contoh: Kami pulang pergi naik kijang

8.       Alegori : gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam
Contoh: Gadis itu bunga mekar di kampung kami

9.       Metafora : gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain yang mempunyai sifat yang sama
Contoh: Dewi malam telah pergi ke peraduannya (bulan)

10.   Eufemisme : gaya bahasa perbandingan mempergunakan kata yang mengandung arti memperlembut atau memperhalus yang dimaksudkan untuk menghindarkan pantang (hal yang tabu) atau sopan santun

11.   Antonomasia : menyebutkan keterangan atau sifat tentang sesuatu, tetapi tidak menyebutkan hal yang diterangkan itu.
Contoh: Berdoalah kepada Yang Maha Pengasih


Wueeh, banyak banget ya sahabat MFF. Terus apakah ketika kita memutuskan untuk menulis fiksi, kita mesti hapal semua gaya bahasa tersebut? Tentu saja tidak! Menghapal macam-macam gaya bahasa tersebut adalah tugas anak-anak sekolah yang akan mengikuti ujian bahasa Indonesia di sekolah. Sebagai seorang penulis, cukup tulis apa yang kita ketahui. Jangan terikat dengan ketentuan-ketentuan yang ada dan bebaskan ekspresimu.

Lalu, kalau mau menggunakan gaya bahasa dalam tulisan kita, bagaimana caranya? Banyaklah membaca dan mendengar. Percaya deh, kebanyakan gaya bahasa justru berasal dari sastra lisan masing-masing daerah. Semakin banyak kita mendengar, semakin kaya pula gaya bahasa yang kita ketahui.


Oke, sekian dulu ya. Sekalian mau ngucapin Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi sahabat MFF yang menjalankannya. Sampai ketemu di Jumat Belajar berikutnya, ya. Selamat menulis.  

1 comment:

  1. Menyimak......... O begitu toh mbak :D makasih Ilmunya

    ReplyDelete